Penjajahan Terhadap Anak Didik

| komentar

Tiga ratus tahun lamanya bangsa kita yang tercintah ini di jajah oleh negara penjajah. Mereka merampas harkat, martabat, harta, kemerdekaan, kebebasan dan semua potensi yang ada di Indonesia. Mereka menyedot semua mata air bangsa ini hingga kering dan tak berair. Setengan abad lebih penjajah telah pergi mengankatkan kaki dari negeri kita. Namun, ternyata dalam pendidikan praktek penjajahan kerap kali terjadi pada anak didik. Berulang kali guru merampas kebebasan siswa untuk berkreasi, berfikir jernih, bermain, mengembangkan prestasi dan kreasi diri dan mengerutkan nyali siswa untuk tampil memompa kemampuan dirinya.

Saya ingin mengajak Anda menghentikan penjajahan anak didik kita ini secara nyata dengan melakukan langkah-langkah konkrit dalam pembelajaran dan proses berinteraksi dengan siswa. Hentikan perlakuan atas anak didik sebagai orang dewasa kecil yang dijejali dengan bahan pembelajaran semau orang dewasa. Selami dunia anak dan belajar menjadi diri seorang anak dan tentukan materi, metode, pendekatan, suasana, dan penilaian menurut porsi anak didik. Bukan mengukur kemampuan anak dengan standar orang dewasa.

Lalu bagaimana praktik-praktik penindasan yang dilakukan guru dalam pembelajaran atau saat proses transfel ilmu kepada anak didik?
Pertama, pemberian materi pelajaran yang tidak sesuai dengan umur dan tingkat kecerdasan anak didik. Contoh, kurikulum taman kanak-kanan adalam bermain dan mengenal huruf dan angka. Namun, praktik di lapangan banyak guru-guru sekolah TK yang melakukan dril kepada siswa-siswinya untuk bisa membaca dan menghitung penjumlahan, pengurangan, bahkan perkalian. Jika mereka di tanya tentang hal itu, mereka menjawab: “Ini adalah tuntutan untuk dapat masuk di sekolah-sekolah faforit”. Demikian juga banyak guru yang berkata: “Materi anak SD sekarang seperti materi SMP dulu, materi SMP sekarang seperti materi SMA dulu”. mereka seorang pendidik yang mengajarkan materi produk baru. Hati kecil merekamenatap pada anak didiknya dengan rasa iba dan penuh belas kasihan. Hati kecil mereka seakan-akan berkata: “Belum saatnya kalian mempelajari materi-materi seperti ini, karena terlalu berat bagi kalian”.

Misalnya, guru SD kelas I pada semester I menanyakan kepada muridnya: “Bagaimana sikap kamu terhadap bencana gempa bumi?”, “Sebutkanlah nama-nama buah berikut ini dalam bahasa Inggris, kemudian buatlah dari kata-kata tersebut sebuah kalimat”, atau “Deskripsikan ibadah puasa dan sebutkan tiga doanya”.

Kedua, pekerjaan rumah buat anak didik sebanyak tiga sampai lima halaman untuk sebuah mata pelajaran. Walau anak dibantu orang tua murid sampai pukul 12 malam, PR mereka tidak dapat diselesaikan. Orang tua ikut merasakan kesulitan yang dihadapi anaknya. Mereka hawatir anaknya tidak dapat menuntaskan tuntutan guru. Sehingga, bagi yang berduit mereka memanggil guru prifat masing-masing bidang studi. Kapan mereka dapat beristirahat? Kapan mereka bisa berekreasi? Ingat, bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Kalau semua waktu yang mereka miliki dipaksa untuk belajar dan belajar, bukan keberhasilan yang di dapat justru kemerosotan. Dari sini tampak betapa berat beban anak didik saat ini.

Ketiga, Guru hanya mengajarkan sejumlah halaman buku tanpa mempersoalkan apakah anak didik mereka paham atau tidak. Proses pengajaran yang dilakukan guru tidak membumi di hati anak didiknya. Asal materi selesai -tanpa memperhatikan satu-persatu pada kemampuan siswa- tugas dia sebagai guru selesai. Sehingga dalam suasana kelas yang tertinggal merasa minder untuk berkompetisi dengan teman yang lainnya. Jiwa anak akan tertekan dan pesimis. Bahkan jika ada anak didik yang tidak paham dan sulit memahami materi yang disampaikan guru, malah dia mengomeli dan menjewer, dan memrbei sanksi. Sehingga anak menjadi jera, tidak simpati, tidak tertarik, dan enggan mempelajari pelajarn yang diajarkan oleh guru tersebut.


Keempat, Guru memberikan sanksi yang dapat mematahkan motifasi anak didik untuk mengembangkan motorik kasar dan motorik halusnya. Seperti, mencubit atau memukul hingga anak kesakitan, menyuruh membersihkan kamar mandi, berlari 15 putaran lapangan sekolah, dan penindasan mental mereka.


Kelima, Guru bermuka masam dan bersikap dingin dihadapan anak didiknya. Guru adalah figur teladan yang menjadi orang tua mereka di sekolah. Jika mereka bersikap dingin dan masam tanpa kehangatan, keakraban, kedekatan dengan siswa, siswa merasa takut untuk bertanya dan berkomunikasi lebih dekat dengan guru.

Sebenarnya banyak sekali contoh-contoh penindasan dan penjajahan anak didik yang terjadi di kelas saat pembelajaran yang tidajk bisa saya sebutkan satu-persatu. Ini terjadi akibat dari sikap dan prinsip guru dan pengelola pendidikan di Republik Indonesia ini, cenderung memperlakukan anak didik sebagai orang dewasa kecil.


Lalu bagaimana solusinya yang terbaik?


Pertama, Menyesuaikan muatan materi sesuai dengan kemampuan, usia, dan tingkat daya pikir anak didik. Di Sekolah Bani Hasyim Bertaraf Internasional sangat anti dengan program CALISTUNG di sekolah tingkat TK. Mengapa? Karena, sekolah TK merupakan taman bermain untuk anak didik dan berkomitmen dengan kurikulum yang ditetapkan oleh DIKNAS.

Kedua, Pemberian tugas di rumah hendaknya tidak terlalu membebani anak didik. Sebab, intinya penugasan di rumah itu bertujuan untuk pemantapan terhadap materi yang diberikan oleh guru sewaktu di sekolah. Kalau terlalu banyak, siswa tidak maksimal dalam mengerjakan soal dan merasa terbebani oleh tugas sekolah, sekaligus tugas itu merengut waktu bermain anak.


Ketiga, Sikap guru harus arif, bijak, adil, dan penuh kasih sayang. Guru seperti ini akan memperlakukan semua anak didiknya dengan memberikan perhatian dan penghargaan yang sama tanpa membedakan antara yang pinter dan yang kurang pemahamannya. Dia akan sabar membimbing anak yang tidak bisa hingga mengerti serta memberikan motivasi dan sport pada anak didik. Guru yang bijak adalah guru yang memprioritaskan peningkatkan akademi dan kepribadian anak didiknya. Ketabahan, kesabara, dan ketulusan seorang guru sangat menentukan keberhasilan dalam pendidikan.


Keempat, Meningkatkan disiplin dan tanggung jawab memang tugas yang berat. Merubah sikap dan kepribadian sekian banyak anak didik bukan pekerjaan yang mudah. Butuh proses dan waktu yang panjang serta bimbingan yang kontinyu dari seorang guru. Upaya ini tidak harus dengan memberikan sanksi yang berat terhadap anak didik, bisa saja dengan menberikan kepercayaan seperti menjadi ketua kelas atau orang kepercayaan. Kalau toh memberikan sanksi, maka guru seyogyanya memberikan sanksi yang memdidik dan bukan sanksi fisik. Misalkan, memberi sanksi dengan membaca buku cerita, berdzikir, shalat sunnah, atau mendata peralatan di kelas dan menyebutkan fungsi kegunaannya. Dan bisa juga dengan bentuk-bentuk yang lainnya.


Kelima, Guru harus pandai mendramatisasi keadaan dan memiliki kemampuan untuk mengelolah perasaan diri ( pengendalian diri). Maksudnya, problem di rumah jangan di bawa ke dalam kelas, sehingga anak yang tidak tahu-menahu dududk persoalannya terkena getahnya. Hilangkan muka seram, wajah angker, sikap dingin dan acuh tak acuk, pemarah. Bersikap ramahlah terhadap generasi yang saat itu dia didik. Jika pendidiknya pemarah, bagaimana anak didiknya? bisa jadi mereka akan menjadi cendikiawan pemarah dan emosinal yang bertemperatur tinggi. Kesejukan, senyum, tegur-sapa, bersalaman, menghargai, dan memberikan penghormatan terhadap anak didik akan menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan. Ini semua tidak akan terwujud, kecuali bersumber dari hati yang lembut dan bersih. Initinya guru harus menjaga suasana kelembutan, kesejukan, dan kebersihan hati dengan terus berdo’a saat akan memasuki kelasnya.


Keenam, Guru hendaknya mengawali semua kegiatan proses belajar mengajar sebagai perwujudan ibadah kepada Allah SWT. Dengan berharap semua jerih payahnya diterima sebagai amal bakti yang tak ternilai di sisinya. Motivasi ini akan mendorong guru terus untuk melakukan koreksi diri dan pembenahan diri.


Pantaslah guru sejak dahulu menyandang gelar sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Karena jerih payah dan pengorbanannya begitu besar dan tidak ternilai. Semoga Allah SWT senantiasa merahmati dan meridhai semua langkah-langkahmu. Amin.

sourch : http://annajib.wordpress.com/penindasan-terhadap-anak-didik/ 

Share this article :

Poskan Komentar

komentarnya jangan lupa.


 
Support : Demoyangshop | Kraton Jati Furniture | The Game Ever
Copyright © 2011. yufikselalu - All Rights Reserved
Sponsored by Creating Website Editing by Yufik Rosidi
Proudly powered by Blogger